author’s note:
Sebenernya secara teknis, ni nggak bisa disebut sebagai my 1st Fanfiction maupun my 1st fiction yg q tulis. Ni bukan fic pertama yg gw buat, tapi yeah.. ni bisa dibilang fic pertama yg berani gw publish. Sebelumnya ada beberapa fic pendek yang dulu sempat gw tulis, tapi selalu berakhir di tempat sampah karena gw sering nggak PD ma kemampuan nulis gw.. hehe ^^.
Dan seperti yang dah gw bilang sebelumnya juga, ni bukan fanfiction pertama yang gw tulis dengan menggunakan karakter seleb Korea. Sebenernya ni salah satu cerpen gw yang bernama dan bersettingkan Indonesia yang gw rubah ke nama dan setting Korea. xDGw ngelakuin itu karena waktu tu mo coba-coba buat nge-post FF di forum Korea yang gw ikutin… eh, malah ketagihan.. wkwkwk~
ah, udah ah.. Gw ndak usah banyak cing-cong! Ni FF gw yang pertama gw publish di blog ini.. hehe..^^ Selanjutnya gw bakal post sesuai ma urutan gw bikinnya…
Tambahan! Yeah, ni mang terinspirasi dari lagu Britney yang berjudul sama. Dan please, banget toleransi semua kekurangan gw dalam nulis ini, soalnya gw kan amatir… hehehe…
hope u enjoy it~
—————————-
DON’T LET ME BE THE LAST TO KNOW
Main Casts: Han Geng of Super Junior and Kang Eun Bi -OC-
Other Casts: Shim Changmin of DBSK, selebihnya Original Character (OC)
Oke, sekarang aku panik!
Masalahnya…… orang yang jadi cowokku sekarang belum pernah mengucapkan ‘tiga kata ajaib’ kepadaku. Ngerti kan? Tiga kata yang kata keduanya dimulai dengan huruf ‘c’, trus ‘i’, lalu ‘n’, dan ‘t’, dan yang terakhir ‘a’. Kalo nggak ngerti kebangetan banget.
Oke, kalian pasti mikir gini, Apa masalahnya? Toh cinta nggak harus selalu diungkapkan dengan kata-kata kan? Cukup dengan perhatian dan tindakan. Yap, memang bener. Semula pemikiranku juga begitu. Tapi tunggu sampai kalian mendengar ini.
Saat aku kebetulan sedang di toilet, dan dua orang kakak kelas masuk. Tanpa sengaja aku mendengar obrolan mereka. Wait a minute! Kalian harus ingat, tanpa sengaja mendengar dan bukannya menguping. Bukan salahku kan ada di toilet saat orang lain sedang bicara serius? Lagian kalo nggak mau obrolannya didengar orang, nggak usah bicara di toilet. Bicara aja di bulan sono.
Balik ke masalahku, tanpa sengaja aku mendengar pembicaraan mereka. Waktu kuintip dari lubang kunci, terlihat Soon-young Unnie–ketua cheerleader, jadi aku tau– dan sahabatnya, Jeong-eun –anggota cheerleader juga, jadi aku tau. Soon-young Unnie keliatan kacau banget. Dia yang biasanya judes ma juniornya, bedakan tebel, rambutnya tersisir rapi dan wangi melati kayak kuntilanak aja jadi terlihat begitu kucel. Dan dia nangis!
OMG! Aku pikir dia itu manequin berjalan, eh ternyata manusia juga yang punya perasaan, cipta, rasa dan karsa.
“Aku nggak tau harus bagaimana lagi…” dramatis Soon-young sambil sesenggukan sementara aku menikmati pemandangan yang nyaris rare ini dari lubang kunci. Ah, nyesel aku nggak bawa handycam ke sekolah.
“Sudah…. Tabahkan hatimu, Soon-young” Jeong-eun mengusap pundak Soon-young.
“Aku pikir dia baik. Sebelumnya dia care banget ma aku…..” Soon-young nggak kuasa menahan tangisnya.
“Sudah….. Sabar….”
“Pantes aja dia nggak pernah bilang cinta atau sayang padaku. Ternyata aku cuma dijadikan ban serepnya doang, baru setelah dia nemuin cewek lain, aku dibuang gitu aja…. Dasar cowok brengsek! Brengsek!”
Eomo……! Kayaknya aku kena hukum karma udah njelek-njelekin Soon-young Unnie. Sekarang aku jadi panik. Soalnya Han Kyung, orang yang menjadi kekasihku sekarang belum pernah ngucapin kata-kata ‘itu’. Padahal kita udah jalan enam bulan. Aku jadi resah dan gelisah, menunggu di sini….. Alaaah, kok jadi nyanyi sih. Yang jelas aku cemas kalo aja aku senasib dan sepenanggungan dengan Soon-young Unnie. Oh, Noooooooo!
Hust…… Just Stop! Aku ini kenapa sih? Gimana bisa aku memukul rata Han Kyung dengan cowok-brengsek-mantan-Soon-young Unnie itu. Tapi……. bukannya aku ragu, tapi siapa tau kan? Aaaaarrgghh! Aku butuh Soon-yi!! Aku butuh konsultasi!!!
Kubuka pintu toilet dengan satu sentakan keras setelah dua senior itu pergi. Berjalan dengan langkah terburu-buru menuju kelas 3-A. Kelas Soon-yi. Namun tiba-tiba langkahku terhenti. Seperti baru mendapatkan ilham, aku jadi ingat kalau ini masih jam pelajaran. So, aku harus nahan sejenak hasrat buat curhat ke Soon-yi selama –kulirik jam tanganku– dua jam.
Ya Tuhan, lama amat! Tapi aku harus tahan. Aku pun melanjutkan perjalananku, kali ini dengan tujuan. My dear class.
***
“Itu mungkin aja terjadi!.” komentar Soon-yi setelah aku selesai menceritakan semua yang kudengar di toilet, semua kecemasanku.
Jujur, aku kecewa mendengar komentar Soon-yi yang tidak berperasaan itu. Padahal aku tadi berharap akan mendapat penenangan hati dari sahabatku. Ternyata…, bukannya tenang malah jadi tambah senam jantung. Mendadak, aku menyesal sudah curhat ke Soon-yi.
“Tidak mungkin, kan? Aku yakin kalo Han Kyung nggak akan melakukan semua hal keji itu kepadaku.” ujarku meyakinkan diri.
“Mungkin aja!” bantah Soon-yi keras. “EunBi……, kita realistis saja. Han Kyung itu populer. Mister Perfect. Tampan…, pintar, bintang basket, masuk sepuluh besar sekolah. Kaya! Biasanya… cowok seperti itu pasti playboy. Suka mempermainkan gadis-gadis. Bisa saja kan, kau… hanya dijadikan sebagai hiburan sebelum dia mendapatkan gadis yang lebih segala-galanya daripada dirimu, ohng? …aku benar kan?”
Sunyi. Saat Soon-yi nyebutin semua kelebihan Han Kyung kontan otakku bekerja keras. Apa kelebihanku? Apa kelebihan seorang Kang EunBi? Aku nggak cantik. Seksi juga nggak. Pintar? Oh…… jangan tanya, bukannya mau menyombongkan diri, tapi setiap aku ulangan Matematika, aku tidak pernah tuh… mendapat nilai lebih dari 7. Walau sekeras apapun usaha aku, sia-sia. Aku memang nggak berbakat di bidang itung-itungan. Dan tajir? Haaaaah.…. Aku cuma salah satu dari sekian banyak orang yang terserang virus chataholic (istilah pribadi aku buat penyakit gila chatting). Trus apa kelebihan aku?
None.
Dan kalau aku mau berpikir (sebelum-sebelumnya aku males banget kalo disuruh berpikir), memang aku jadian dengan Han Kyung itu seperti dream comes true. Aku seperti Cinderella yang akhirnya mendapatkan pangeran berkuda putih. Tapi beda Cindy denganku, kalo Cinderella ketemu pangerannya dengan perantara sepatu kaca. Kalo aku lewat yang namanya chatting. Aku dan Han Kyung berkenalan di forum Internet yang membahas soal game Final Fantasy. Aku nyambung dengannya dia. Aku terkesan dengan pengetahuannya tentang FF, begitu juga denganku. Lalu… kita tuker-tukeran FS. Kita sering banget chatting bareng. trus kita mutusin jadian. Itupun dia nanya “Mau nggak jadi Rinoa aku?” aku yang waktu itu lagi iseng menjawab, “Kenapa nggak?”
Trus kita mutusin untuk blind date. Dari situ aku tau kalo cowok yang punya nickname Squall Leonhart itu the one an only, Kim Han Kyung. Cowok paling populer di sekolah, paling cakep (menurutku) dan yang paling penting dia cowok yang diam-diam aku taksir selama ini sampai-sampai aku pakai singkatan nama dia: LH buat jadi nickname aku. (Untung dia nggak nanya asal muasal nick aku itu. Seumpamanya dia nanya, aku harus jawab apaan, hayo?)
Ya, itu. Sejarah jadian kami. Sesimpel itu. Hubungan kami berjalan biasa-biasa aja selama enam bulan ini. Nggak pernah mesra-mesraan. Nggak pernah ngelakuin yang ‘aneh-aneh’. Kami malah kayak sahabat daripada sepasang kekasih. Dan setelah aku telusuri sejarah kami itu, jangan-jangan…….. Han Kyung waktu itu nembak aku dengan alasan sama kayak aku nerima dia awalnya : CUMA ISENG.
Whoaaaaa!!!!!
“EunBi?……. Kang EunBi? Bangun hei, jangan melamun!”
Aku tergagap. “Hah?”
Soon-yi mengela napas. Prihatin. “Aku mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi menurutku, lebih baik kau minta kejelasan, eh, penegasan lebih tepatnya, tentang hubungan kalian ini. Memang sih dalamnya sayang seseorang itu tidak bisa diukur dari seberapa sering dia mengucapkan kata-kata cinta kepada kita. Tapi…. tidak pernah mengucapkan sama sekali itu juga patut dipertanyakan. Jadi lebih baik, kau meminta Han Kyung untuk mengatakan ‘kata-kata itu’!”
“Tapi kalo dia tidak mau?”
“Dia harus mau.” tegas Soon-yi.
“Kalo tetap tidak mau?”
“Yaaa, itu berarti Han Kyung sama sekali tidak serius denganmu!” bentak Soon-yi tidak sabar.
Setelah dipikir-pikir……….. ucapan Soon-yi ada benernya juga. Sontak aku berdiri dan berjalan menuju tempat Han Kyung sekarang berada. Tekadku sebulat donat, keyakinanku sekuat kawat. Hari ini aku akan minta Han Kyung buat ngucapin kata yang diawali ‘c’ itu.
“H-hei…! EunBi, kau mau kemana? Hei! Kang EunBi!!” panggil Soon-yi.
“Lapangan.” sahutku singkat.
Benar. Tujuanku sekarang ke lapangan basket di belakang sekolah.
***
Tapi………….
Seperti donat yang bakalan bolong juga kalau dimakan dan seperti kawat yang bengkok kalau diremes tangan, aku sudah lupa mau melakukan apa sebelumnya saat melihat Han Kyung yang sedang latihan basket. Melihat tubuh jangkungnya yang basah oleh keringat dan wajahnya yang serius itu berubah cerah saat assist dari Kang-in bisa diteruskannya dengan mulus hingga bola melewati ring tanpa halangan berarti. Dilihat dari sudut manapun, cowok itu memang kerrrrreeeeen banget nget nget!
Namun seketika itu telingaku langsung panas, mendengar teriakan-teriakan centil dari barisan adik kelas. Kulirik mereka dengan pandangan yang sanggup membunuh lalat yang lewat di depanku, tapi sialnya aku dikacangin~….. Mereka nggak nyadar-nyadar juga kalo ceweknya Han Kyung ada di samping mereka. Dongsaeng sialan! Awas kalian semua!
“Kyaaaaaa~~… Han Kyung Oppa!!”
Mereka semakin histeris ketika Han Kyung melemparkan seringaian khasnya yang amat sangat teramat aku yakini, cewek beruntung yang dapet senyuman itu nggak lain dan nggak bukan adalah……… diriku sendiri!!! Aduuuh…., aku kok jadi Ge-Er gini.
Jadi kuputuskan untuk menunggunya sampai selesai latihan dan duduk di bangku di tepi lapangan, seperti biasa.
“Tangkap!” Han Kyung melempar bola basket ke arahku.
Hup! Yaaah…… dengan kemampuan dadakan yang kumiliki sebagai ceweknya kapten tim basket, dengan amat mudah kutangkap bola itu dan tersenyum.
Han Kyung duduk di sampingku. Bisa kurasakan panasnya tatapan setan-setan yang cemburu di punggungku. Who care’s! Malahan…. Aku menikmatinya. “Kita jadi pulang bareng, kan?” tanya Han Kyung saat aku menyodorkan air mineral kepadanya. Dia tersenyum tanda terima kasih.
Aku mengangguk.
“Oke. Kalo begitu tunggu aku lima menit di sini. Aku mau ganti baju dulu.” Han Kyung berdiri, berjalan pergi.
Tiba-tiba terbersit satu pikiran nakal di benakku. “Yaa, tunggu dulu.”
Han Kyung berbalik. “Apa?”
Kuambil handuk kecil di leher Han Kyung dan menyeka keringat yang menetes di keningnya. Sengaja, buat balas dendam adik-adik kelas yang centil-centil itu. Sekarang tau kan, Han Kyung itu punya siapa?
“Eeeeeeiiii…….apa-apaan ini. Hyung, mau pamer kemesraan ya? …Mentang-mentang yang lain masih single?” ejek Kang-in.
Han Kyung terbahak tapi tak membantah sedikit pun. “Tunggu di sini, ya. Jangan kemana-mana.” ucapnya kepadaku.
“Memangnya mau diculik siapa? Kita semua tahu kalau EunBi hanya milik Hyung kan?” goda Kang-in lagi sambil cepet-cepet kabur, takut kena jitak si Han Kyung.
“Hei! Kang-in, awas kau!!” Han Kyung berlari mengejar Kang-in.
Tawaku menyembur. Sepertinyaa aku sudah lupa, niat awal datang ke sini.
***
Bola basket memantul-mantul di tanah seiring langkah Han Kyung sementara dia terus saja mengoceh tentang basket, basket dan basket. Biasanya sih, aku suka mendengarkannya –meski kebanyakan nggak ngerti. Tapi kali ini pikiranku sedang tidak fokus pada omongan-omongan Han Kyung. Aku lebih condong memikirkan obrolanku dengan Soon-yi tadi. Walaupun aku sudah sempat melupakannya tadi, tapi entah… kenapa sekarang aku jadi mengingatnya lagi.
Tanpa sadar aku menghela napas.
“EunBi-ah?” suara lembut yang amat kukenal menyapu gendang telingaku, menarikku dari alam pikiranku kembali ke kenyataan. Saat aku mendongak, Han Kyung sudah berdiri di hadapanku. Memandangi wajahku seksama seakan-akan memandangi sebuah lukisan abstrak di galeri seni. Kedua alisnya nyaris bertautan, pertanda kalau dia sedang berpikir keras.
Wajahku kontan memanas. “Apa?” Langsung aku memalingkan muka, tidak ingin Han Kyung tau kalau wajahku sekarang seperti cerry.
“Hei…, kau melamun ya? …Kenapa?”
“Aniyo~” dustaku, mempercepat langkah.
Han Kyung menjajari langkahku. “Ada apa? Hari ini kau aneh sekali, diam terus dari tadi. Ada masalah?”
Sebenarnya masalahnya itu ada pada dirimu! Ingin sekali kujeritkan kata-kata itu. Namun aku memilih bungkam.
“EunBi-ah….” sekarang nada bicaranya memohon.
Okey! Kau yang memaksa. Akan kubuktikan kalau semua kecemasanku selama ini nggak beralasan. SEKARANG! Kuhentikan langkahku tiba-tiba, membuat Han Kyung bertanya-tanya.
“Ehm……… Oppa, kalo aku bertanya sesuatu… Oppa tidak akan marah kan?” tanyaku hati-hati.
“Ya…….. tergantung pertanyaannya.”
“Tesso! Lupakan saja…” aku hendak melangkah, tapi Han Kyung memegang lenganku.
“E-eh….. becanda. becanda, kok. Tanya saja. Apa?”
Okey……. Kutarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan-lahan. Mengumpulkan semua keberanianku untuk menanyakan pertanyaan yang mengganggu ketenanganku belakangan ini.
Satu dua tiga……
“KenapaakunggakpernahdengarOppabilangkalauOppamenyayangiku?” (Kenapa aku nggak pernah dengar Oppa bilang kalau Oppa menyayangiku) kudengar diriku bertanya, dalam tempo yang sangat cepat.
Tapi agaknya Han Kyung menangkap maksud dari ucapanku. Terbukti dari ekspresi kaget yang nggak sanggup ia sembunyikan. Ya Tuhan! Apa yang baru saja kulakukan? Sepertinya tadi aku salah ngomong deh….. Sepertinya waktunya tadi kurang tepat….
“A-aku…… ehm…. aku rasa…… itu… tidak penting.”
“Tentu saja penting!” ceplosku, langsung membekap mulut.
Menyadari kekeliruannya, Han Kyung segera meralat ucapannya. “Eh….. maksudku…… itu……. tidak terlalu berpengaruh pada… hubungan kita…” Dan tentunya malah semakin memperparah keadaan.
“Tentu saja berpengaruh!” sergahku. Han Kyung salah tingkah, bingung harus bilang apa.
Dan tepat saat itu, “EUNBI….! Bantu Omma mengganti bolham lampu kamar mandi. Omma tidak sampai!” Omma memanggilku dari jendela lantai dua rumahku. Eh, udah sampai rumah ternyata?
“Ya, Ommaaaa!” teriakku terganggu. Omma sih, nggak liat-liat sikon! Lalu aku menoleh ke Han Kyung. “Kita bicara nanti. Oppa akan meneleponku, ohng?”
“Ehm…… Tentu…” angguknya, setelah berpikir lama.
Entahlah. Mungkin cuma firasat berlebihanku, tapi aku menangkap ada keraguan pada suara Han Kyung kali ini. Tapi aku mengabaikannya dan masuk ke dalam rumah. Memenuhi panggilan Ommaku tersayang.
***
Rasanya udah berpuluh-puluh abad, atau bahkan beratus-ratus abad –menurut perhitunganku sendiri– aku duduk manis di depan handphone, menunggu Han Kyung menghubungiku. Tapi nyatanya, sampai sekarang handphone nggak bunyi-bunyi. Tiba-tiba……
Reffrain lagu Miracle-nya Suju terdengar. Ringtone hp-ku
Secepat kilat aku menyambar handphone-ku, tanap melihat siapa yang menelepon. “Yeoboseyo? Oppa?” tanyaku cepat.
Tapi suara cempreng yang menyahut. “Oppa?…… Yaaaa, aku bukan Han Kyung. Ini aku… Soon-yi.”
Aku kecewa.”Ohh….Soon-yi. Ada apa?”
“Hei, kau sedang tidak ada acara kan? Temani aku ya?”
Aku mendesah berat. “Mianhe…. Aku sedang malas keluar hari ini…”
***
“Aiiish….. dasar! Kang EunBi! Giliran aku bilang traktir pasti mau aku ajak.” cibir Soon-yi. Kami sedang berada di sebuah cafe di salah satu mall terkenal di Seoul.
Aku nyengir. Mengaduk-aduk avocado juice-ku. ” Heei, kau ini seperti baru mengenalku saja… hehe… Eh, ngomong-ngomong kau membeli kado itu untuk siapa? Seingatku…. ulang tahunku bukan bulan ini?”
“Ge-er! Emang siapa yang membeli kado untukmu? Ini buat sepupuku, Tau! Hari ini dia ulang tahun.” jelas Soon-yi.
“Oooh……”
“Eh, Han Kyung bagaimana?” ceplos Soon-yi tiba-tiba.
Aku langsung tersedak avocado juice-ku dan batuk-batuk.
Soon-yi mencibir sambil menyodorkan tissu kepadaku. “Eeii…. tanpa kau jawabpun aku sudah bisa menebak. Berani taruhan, kau pasti belum menanyakan itu kepadanya, kan? Haaaah, sudah kuduga. Melihat wajah Han Kyung saja kau pasti udah lupa tadinya mau apa kan?” Mata Soon-yi menyipit, menghina.
“Tidaaaak…” aku langsung membantah. “Tadinya aku sudah mau tanya, tapi…….” akhirnya kuceritakan juga kejadian sepulang sekolah yang hingga sekarang belum pasti kejelasannya, nggak lupa bagian Han Kyung yang nggak menepati janjinya nelpon aku sampai sekarang.
“Betul kan? Apa kubilang? Han Kyung tu….. bla…bla….bla…”
Kubiarkan Soon-yi mengoceh sendirian. Bosan! Tiap hari diceramahin. Manalagi ceramahnya lamaaaaaa banget. Aku hanya manggut-manggut, pura-pura mendengarkan sepenuh hati padahal aku menyimak musik yang disetel di cafe. Lagu Britney lawas. Don’t Let Me Be The Last To Know. Karena kurang kerjaan, aku mencermati tiap-tiap lirik lagu itu.
My friend said you so into me
and that you need me desperately
they said you say we’re so complete
but i need to hear it sraight from you
If you want me to believe it’s true
I’ve been waiting for so long, it’s hurt
I wanna hear you say the words
Don’t……. don’t let me be the last to know
don’t hold back, just let it go
I need to hear you say
you need me all the way
If you love me
so….. Don’t let me be the last to know
Entah mengapa aku merasa ada kemiripan antara aku dan cewek di lagu ini. Kami sama-sama tahu dan yakin kalau cowok kami benar-benar sayang, tapi kayak yang Brit bilang di lagu itu….. kalau Han Kyung ingin aku percaya itu, aku ingin dengar sendiri kata-kata ‘itu’ keluar dari mulutnya.
“EunBi-ah!” pekik Soon-yi tertahan sambil menarik-narik tanganku agar melihat ke arah jendela. Aku mendesah jengkel, mengabaikan Soon-yi. Paling-paling dia menyuruhku melihat cowok cakep lewat. Sekarang aku sedang tidak minat!
“Heeeei, ayo…. sebelum dia menghilang!” Soon-yi kembali berseru, kali ini menolehkan daguku paksa.
Kedua mataku melotot, mungkin nyaris keluar dari tempatnya. Rasanya bagai melihat hantu, darah seolah surut dari wajahku. Semua harapan tentang Han Kyung yang kutanamkan sendiri di pikiranku tiba-tiba lenyap tak berbekas. Berganti dengan kata-kata Soon-yi tadi siang yang bergema keras di kepalaku….
“EunBi……, kita realistis saja. Han Kyung itu populer. Mister Perfect. Tampan…, pintar, bintang basket, masuk sepuluh besar sekolah. Kaya! Biasanya… cowok seperti itu pasti playboy. Suka mempermainkan gadis-gadis. Bisa saja kan, kau… hanya dijadikan sebagai hiburan sebelum dia mendapatkan gadis yang lebih segala-galanya daripada dirimu, ohng? …aku benar kan?”
Han Kyung sedang menggandeng cewek lain yang tidak kukenal. Tapi yang jelas, gadis itu lebih tinggi, lebih cantik, pokoknya lebih segala-galanya daripada aku. Dadaku jadi sesak. Bodohnya aku…….. mengira Han Kyung benar-benar serius kepadaku…… tapi ternyata di belakangku…..
“Untuk apa menangisi laki-laki keparat sepert dia!” kata Soon-yi keras. “Dia itu… sama sekali tidak pantas untuk mendapatkan air matamu.”
Dan kali ini aku setuju dengan pendapat Soon-yi. Han Kyung sama sekali nggak pantas mendapatkan apa pun dariku. Emosional, kuhapus airmata yang aku sendiri baru sadar kalau mengalir. Mengalihkan pandangan dari jendela.
“Aku tau!” tiba-tiba Soon-yi berseru.
Kupandang sahabatku ini dengan tatapan penasaran. “Tempat yang akan membuatmu melupakan si Brengsek itu….”
Soon-yi tersenyum penuh arti.
***
“Kau yakin aku boleh masuk?” tanyaku ragu di depan gerbang rumah besar yang di depannya banyak sekali mobil-mobil mewah yang parkir. Langit di atas kami sudah gelap.
“Sudah…. tenang saja. Sepupuku bilang aku boleh membawa temen ke sini. Lagipula kau liat sendiri kan rumahnya sebesar apa? Percaya padaku…. semuanya serba lebih. Tidak akan habis makanannya kalo cuma ketambahan kau saja.” yakin Soon-yi.
“Tapi………”
“Sudah…! Cerewet!!” Soon-yi menyeretku masuk.
Saat masuk ke dalam, mau tidak mau aku melongo takjub. Rumahnya gede banget!!! Dan perabotannya…. wuih…. kinclong abis, seperti di drama-drama yang sering kutonton. Banyak sekali tamu yang datang, tapi semuanya tidak ada yang aku kenal. Tapi sepertinya orang-orang kelas atas. Sepanjang jalan aku terus nempel-nempel Soon-yi, agak aneh juga dengan tempat asing.
Aku berbisik padanya, “Soon-yi…, Sepupumu itu siapa sih? Anak pejabat, ya? Kok aku tidak tahu kalau kau punya sepupu sekaya ini. Rumahnya besar sekali….. Apa benar aku boleh masuk? Aku kan jadi tamu yang tidak diundang? Aku pulang aja ya—”
“E-eeh..” Soon-yi keburu menyeret tanganku kembali.
“Soon-yi!”
Soon-yi dan aku sama-sama menoleh. Aku terpaku……… OMO….. Malaikatkah yang sedang berjalan ke arah kami. Aku tidak sedang bermimpi, kan……..?
“Hai!” sahut Soon-yi kenes sambil cipika-cipiki pipi cowok cakep itu saat dia mendekat. Aku jadi rada iri……. “Happy Birthday, ah, ramai sekali. Oh iya, ini kadonya….”
“Gomapta. Taruh saja di sana.” kata cowok cakep itu. “Itu, dari sini kelihatan kok…”
“Oh itu ya….. Oh iya hampir lupa, Changmin ini EunBi, temanku. Kalian kenalan saja sendiri, ya.. Aku ke sana dulu.” kata Soon-yi, berkedip penuh arti ke arahku. Ih, sejak kapan sih Soon-yi jadi genit kayak gitu?
“Oh…. jadi nama kau EunBi, ya?” tanya Changmin setelah Soon-yi minggat.
Aku mengangguk, nyengir. “O-ohng….”
Lalu kami sama-sama terdiam, kikuk. Tidak tahu harus ngomong apa. Dalam kekosongan itu, tiba-tiba aku jadi ingat lagi dengan Han Kyung. Han Kyung menggandeng mesra cewek di mall itu…….
“EunBi…..? …..EunBi?”
“…Ah, tidak!” kataku sambil menggeleng.
“Apanya yang tidak?”
Aku tersentak. “Ohng…? ….Apa??”
“Kau melamun, ya…?” tanya Changmin lagi, menatapku penun tanda tanya.
“Aaaah…., tidak!” aku menggeleng cepat. Menunduk. Aduuuuuh…. Aku malu banget. Ketahuan sama Changmin sedang melamun. Mana sih Soon-yi? Masa menaruh kado saja lama sekali. Awas nanti kalau dia kembali!
“Kau nggak bebas, ya kalau ada aku?”
“Ah, tidak… tidak! Bukan itu…” Aduh…. Kok dia jadi salah paham gini sih… “Bener kok…. bukan karenamu…” yakinku sekali lagi.
Untung aja ada seseorang memanggil Changmin saat aku bingung mau ngomong apa. Changmin menoleh karena panggilan itu, lalu berpaling lagi ke arahku. “Maaf, aku tinggal dulu, ya… Tidak apa-apa, kan?”
“Oh, tidak… tidak apa-apa. Tinggal saja kalo kau memang sibuk.”
Dan aku sendirian sekarang. Celingukan sendiri kayak orang bodoh.
“Lho? Changmin mana?”
Ahh, ini dia. Balik juga orangnya. “Emang tempat kadonya ada di Afrika, ohng? Kenapa lama sekali?! Changmin udah pergi.” sahutku ketus.
Soon-yi mendesah kecewa. “Ampun, kau ini bagaimana sih? Sudah aku beri lampu hijau, kau malah menyia-nyiakannya begitu saja. Sia-sia kan usahaku! Ikan yang sudah tertangkap jaring sekarang lepas lagi kan.”
“Ikan…. ikan apa, hah? Kau sendiri yang ada-ada saja. Aku saja belum putus dari Han Kyung, udah kau suruh ‘jaring ikan’.”
“Ohh…. jadi kau masih mengharapkan cowok brengsek yang bahkan udah ketahuan belangnya itu?” serang Soon-yi.
“Bu-bukan gitu…”
“Ahhh, sudahlah. Ikut aku!” Potong Soon-yi. Seenaknya sendiri menarikku menuju kerumunan orang yang nggak aku kenal. “Haaaai,……. masih inget aku kan? Aduuuuh, sudah lama tidak ketemu ya….. Berapa tahun, ya…. Oh, iya, ini EunBi, temanku…”
Semua orang menyapaku, aku cuma nyengir. Lalu mereka plus Soon-yi ngobrol tentang saat-saat SMP mereka bersama. Aku yang nggak satu SMP dengan mereka jadi bengong, dicuekin sendirian. Jadi aku pergi saja.
Iseng, aku berjalan ke taman yang lebih sepi dari ruangan lain. Terlalu banyak orang asing di dalam, membuatku tidak nyaman. Lebih nyaman di sini, sendirian.
Aku pun duduk di ayunan, mengayunkan diri di sana. Suasana sepi di sekitarku mebuatku teringat lagi pada Han Kyung. Han Kyung yang kejam…… padahal aku percaya kepadanya….
“Ternyata kau suka menyendiri, ya?”
Aku mendongak, terkejut melihat Changmin udah berdiri di depanku. Changmin tersenyum, dan duduk di ayunan di sampingku. “Kayaknya kita ini dua orang yang sama-sama kesepian di tengah keramaian, ya?” katanya.
Aku menoleh. “Mana mungkin? Tamumu kan banyak. Mana mungkin kesepian?”
Changmin tersenyum lagi. Ya Tuhaaaan…., benar-benar tampan! “Tamuku memang banyak, tapi kebanyakan tidakku kenal. Kebanyakan mereka semua teman bisnis Ayahku. Aku merasa tidak terlalu nyaman di dalam sana. Terlalu banyak orang asing, rasanya seperti anak kecil yang terpisah dari orangtuanya di stasiun yang ramai…. Takut….”
Aku menatapnya takjub. Sedikit rasa senang yang terbersit di benakku. Rupanya ada juga orang yang punya perasaan yang sama denganku saat ini. “Kalau begitu…” aku menyodorkan tanganku. “Sesama orang kesepian, harus saling bantu-membantu mengusir rasa sepi kita.”
Changmin menatap tangan dan wajahku bergantian. Lalu mendengus geli, dan menjabat tanganku. “Oke, begitu saja. Mohon bantuannya……….. Orang kesepian.”
Dan kami tertawa hampir bersamaan.
“Hei cewek kesepian, bagaimana kalo kita masuk ke dalam saja? Di sini dingin.” celetuk Changmin tiba-tiba.
“Ehm………. boleh juga.” kataku.
“Cewek kesepian……….” Changmin berdiri, membungkukkan badan. “Mohon jalan duluan.” mempersilakanku seperti layaknya seorang pelayan. Mau tak mau aku tertawa, menggeleng-gelengkan kepala dan berjalan.
Sepanjang jalan kami ngobrol banyak. Aku sendiri tidak menyangka kalau aku akan bisa sebegitu cepat akrab dengan seseorang yang baru aku temui, apalagi dengan cowok. Obrolan kami terhenti saat memasuki ruang pesta karena (lagi-lagi) ada seseorang yang memanggil Changmin. Kami berdua sama-sama menoleh.
“Saengil chukae!” seorang cewek cantik menghampiri Changmin dan menjabat tangannya. Tapi bukan dia yang aku perhatikan, melainkan orang di belakang cewek itu yang juga memandangku dengan tatapan penuh keterkejutan. Rasanya aku ingin sekali menangis.
“Oh iya…. kenalkan, ini Han Kyung. Dia….. kekasihku.”
Bagaikan tersambar petir diriku ini! Dalam sekejap aku sudah kehilangan kontrol diri. Tubuhku serasa bergerak sendiri dan berlari pergi.
“EunBi!” Han Kyung dan Changmin sama-sama berteriak. Tapi Han Kyung berlari mengejarku, sedangkan Changmin dan cewek yang bersama Han Kyung cuma bisa berdiri bingung.
“EunBi…!” Han Kyung menarik tanganku. Dia berhasil mengejarku sampai halaman depan. Aku mengibaskan tanganku.
“EunBi, aku jelaskan sekarang……” Dia sekarang menarik kedua tanganku.
“Tidak perlu!” Aku mengibaskan tangannya lagi. Menyetop taksi yang lewat.
“EunBi!” Han Kyung menahan pintu taksi saat aku hendak menutupnya. “Biar aku jelaskan dulu…….” mohonnya.
“TIDAK PERLU!!!” Soon-yi menarik tangan Han Kyung menjauh dari pintu taksi. “Sudah cukup kau membohonginya!” Katanya sebelum menyelinap masuk ke taksi. Sesaat sebelum pintu taksi ditutup oleh Soon-yi, mata kami masih sempat beradu sebentar. Entahlah…, tapi aku seperti melihat sinar putus asa di mata Han Kyung.
***
Pagi harinya.
“EunBi-ah! Kenapa masih belum selesai? Han Kyung sudah menunggu di depan!” tegur Omma-ku yang tiba-tiba nongol dari balik pintu kamarku.
Aku mendengus jengkel. Sengaja, lambat-lambat memasukkan buku ke dalam tas.
Omma menghampiriku. “Kalian kenapa? Bertengkar, ya?” tanyanya lembut.
“Omma, aku berangkat dulu.” Aku mencium kilat tangan Omma, bergegas berlari ke garasi untuk mengambil sepeda sebelum Omm sempat bertanya macam-macam.
“Appa, aku berangkat!” Seruku kepada Appa-ku yang sibuk mengelus-elus skuter butut kesayangannya. Menuntun sepeda keluar garasi.
Di halaman depan, aku pura-pura tak peduli pada Han Kyung yang berdiri di depan pagar rumah. Kutuntun sepedaku keluar.
“Kita perlu bicara….” katanya, memegang stir sepedaku.
“Tidak ada yang perlu kita bicarakan.” Sahutku dingin, menyingkirkan tangannya dari stir sepedaku. Dan menaikinya, menggenjotnya menjauh dari Han Kyung.
***
Han Kyung bediri di depan sebuah sepeda di tempat parkir. Melihat kanan kiri untuk memastikan tempat parkir itu kosong. Dia tidak punya pilihan lain kali ini. Kalau ini satu-satunya cara agar dia bisa berbicara dengan EunBi…. apa boleh buat!
Han Kyung mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Paku. Dia menatap serius paku itu dan berjongkok di depan sepeda EunBi.
“Sedang apa?”
Han Kyung yang baru akan menancapkan paku itu ke ban sepeda, terhenti. Dia menoleh, berdiri dengan tatapan ngeri, sambil nyengir kepaksa. “Eeeh…, EunBi…..”
Aku memandang paku di tangan Han Kyung dengan pandangan marah. Kurebut paku itu dan membuangnya. Lalu berbalik pergi.
“EunBi-ah!!” Han Kyung berlari menyusulku. Berdiri di depanku, menghalangi jalanku.
“Minggir…”
Han Kyung menggeleng. “Tidak.”
Sebisa mungkin kutahan amarahku, berjalan lewat samping Han Kyung. Tapi cowok itu menggenggam tanganku. “Kau harus mempercayaiku…”
“Aku percaya padamu. Tapi kau mengkhianati kepercayaanku.” Aku menyingkir ke samping Han Kyung, tapi lagi-lagi Han Kyung menghalangiku.
“Yang sebenarnya terjadi tidak seperti yang kau lihat…”
“Oh ya….?” tanyaku sengit. “Tapi bagimana ya…. aku lebih percaya penglihatan dan pendengaranku sendiri…….. Kita putus…..”
Cengkeraman tangan Han Kyung di tanganku mengendur dan perlahan-lahan jatuh. “Putus……..?” Dia memandangku tidak percaya.
Tertegun.
Kemudian cowok itu tersenyum hambar. “Aku tidak menyangka kalau kata-kata itu bisa meluncur keluar dari mulutmu semudah itu……………… Kau mau putus……..? Oke, kita putus. Dipertahankan pun percuma kalau rasa percaya sudah tidak ada.” Dan Han Kyung berjalan melewatiku, pergi.
Meninggalkanku sendiri. Terpukul… meskipun keputusan ini keluar terlebih dahulu dari bibirku. Tapi aku tidak menyangka kalau Han Kyung akan secepat itu menyetujuinya.
***
Pulang sekolah, aku naik sepeda. Namun pikiranku melancong terlalu jauh sampai aku tak sadar kalau sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahku. Aku mengerem sepedaku, berhenti mendadak. Dan mendongak, tercengang.
Seorang cewek yang begitu cantik berdiri di samping pintu mobil, tersenyum. Membungkuk memberiku salam. Aku tahu benar siapa cewek itu.
***
Langkahku gontai ketika aku berjalan. Tubuhku terasa lemas, mendadak aku berhenti. Aku merasa bagai orang terbodoh di dunia saat ini.
Tiba-tiba aku merasa mendapat energi ekstra, seperti seseorang menyuntikkan penambah stamina ke tubuhku. Aku pun berlari. Aku memang bukan atlet dan aku juga hampir tidak pernah berolah raga, tapi semangatku menggebu-gebu, didorong oleh apa yang harus kulakukan. Seumur hidup aku tidak pernah berlari sekencang ini.
***
Di dalam mobil Kim Nara, beberapa saat yang lalu…..
“Aku dengar……. kau dan Han Kyung sudah putus?” tanya Nara, cewek yang kulihat bersama Han Kyung malam itu, membuka pembicaraan.
“Benar. Jadi kalian bisa leluasa sekarang…… Hubungan kalian pun tidak akan diam-diam lagi karena satu-satunya dinding penghalang sudah menghilang……” kataku.
Nara terdiam, entah mungkin merasa bersalah atau apa. “Aku……..”
“Kau datang untuk memastikan kalau hubunganku dengan Han Kyung udah berakhir kan? Sekarang kau sudah mendengar apa yang ingin kau dengar. …Kalau tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, aku pergi.”
“Tu-tunggu….” Nara mencegahku sebelum aku membuka pintu mobil. “Kami sebenarnya saudara sepupu….. Apa Han Kyung tidak bilang itu?”
***
Han Kyung berlari menuju ring, memasukkan bola ke dalam sana. Berulang-ulang. Tiada henti. Sampai tubuhnya lelah dan tak kuat lagi berlari. Dia berteriak marah, membanting bola basket ke sembarang arah. Bola itu terpental sampai di bawah kakiku.
Han Kyung tertegun, terengah-engah. Menatapku.
Selama beberapa saat kami cuma bertatapan.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku berlari dan memeluknya. “Maaf……. Maaf, seharusnya aku mempercayaimu… Sekarang aku sudah tahu semuanya… Maaf…..” kataku sembari tersedu hebat.
Han Kyung terkejut sejenak, kemudian dia balas memelukku. “Sekarang kau percaya padaku, kan?”
Aku mengangguk, masih memeluknya. Membiarkan diriku nyaman dipelukan Han Kyung.
“Hei……….. kau tidak merasa kalau aku bau, ya?”
Seketika aku melepaskan pelukanku. Menciumi tubuhku sendiri yang terkena keringat Han Kyung. Ugh, benar bau. Han Kyung tertawa. “Aku ganti baju dulu, baru antar kau pulang…”
***
“Han Kyung sebenarnya sepupuku…….. Kami tidak punya hubungan khusus apapun. Changmin……. sebenarnya kami dulu sepasang kekasih. Baru-baru ini kami putus. Dan aku…… aku masih menyayanginya… dan aku masih berat melepasnya. Jadi aku ingin mengetesnya. Aku ingin tahu… apa dia masih peduli pada., apa dia masih cemburu kalau aku menggandeng pria lain di depannya, …….karena itu aku minta bantuan Han Kyung. Tapi aku tidak tahu kalau kau ada di sana dan malah membuatmu salah paham. Maaf…….”
Kata-kata yang diucapkan Nara di mobil waktu itu bagaikan pencerahan bagiku. Hari ini aku bahagia sekali…
Han Kyung meraih tanganku dan menggenggamnya. Aku tersenyum. Kami berjalan lambat-lambat agar tidak cepat-cepat sampai ke rumah.
“Lain kali kalau marah……. bagaimanapun juga harus saling memberi kesempatan pihak kedua untuk memberi penjelasan. Jangan gelap mata dan buru-buru mengambil keputusan ‘putus’. Bagaimana?” tanya Han Kyung.
Aku menggangguk. Tapi tiba-tiba ingat, “Tapi………. juga harus saling jujur. Tidak boleh rahasia-rahasiaan. Jadi tidak akan terjadi salah paham. Iya kan?”
Han Kyung mengangguk patuh. “Iyaaa….”
“Satu lagi.” Kataku, menghentikan langkah. Berbalik, memandang langsung mata Han Kyung. “Kalau saja kau mau mengucapkan ‘tiga kata itu’ dari awal……. aku pasti tidak akan berpikiran macam-macam.”
Han Kyung terkejut. “Kau masih ingat, ya?” keluhnya.
“Tentu aja ingat. Ayo katakan…” bujukku.
“Memang ada cewek di dunia ini yang meminta seperti itu selain dirimu?” Han Kyung menghela napas. “…Apa kau benar-benar mau mendengar ‘itu’?”
“Iya.” Aku mengangguk kuat.
Han Kyung menghela napas lagi. “Sungguh….?” tanyanya lagi.
Sekali lagi aku menggangguk. “Iyaaa…”
“Beneran mau dengar?”
Aku mengangguk tak sabar “Ayo cepat…” desakku.
Sekali lagi helaan napas terdengar dari mulut Han Kyung. “Dengerkan baik-baik…” katanya, lalu mengambil napas dalam-dalam. “Aku…… suka………”
Aku harap-harap cemas mendengar kelanjutan kalimat itu. Ayo, kurang satu kata lagi… kurang satu kata lagi…..
“Basket…….. Haaaah, besok ada pertandingan basket…… Kenapa aku hampir lupa? Harus latihan! Benar-benar harus latihan…..” Han Kyung berjalan mendahuluiku, sambil mendribble bola basketnya.
Aku tercengang.
Lalu mendesah tak percaya. Benar-benar gaya Han Kyung. Aku berlari kecil menyusulnya. Merebut bola basket dari tangannya. “Sudah, lupakan aja….. tidak usah kau katakan aku udah tau. Karena aku tau…… di dalam sini….. cuma terukir nama Kang EunBi seorang.” Kataku sambil menunjuk dada Han Kyung, lalu keburu ngacir sambil mendribble bola. Meninggalkan Han Kyung bengong dengan wajah memerah malu.
“Hei…….., EunBi!!!!” Han Kyung berlari kecil mengimbangi langkahku. Dan ketika aku berpaling, tiba-tiba dia menarik tanganku dan hal berikutnya yang aku tahu, dia memeluk dan…. menciumku! Bersamaan dengan jatuhnya bola basket ke tanah.
Saat dia melepaskan ciumannya di bibirku, aku cuma terpaku. Tanpa sanggup berkata-kata. Tapi jelas terdengar di telingaku saat dia berkata lembut sambil menatapku dalam, “Saranghae…”
Aigu…….! Rasa-rasanya aku mau pingsan.
– Fin –
