Shiaqie’s Weblog











{September 10, 2008}   {FF} OVER!!

author’s note:

my 3rd fanfiction~

FF yang gw buat waktu gw lagi emosi… wkwkwk~

enjoy it~

——————————–

OVER!

author: Kiky ShiaQie

characters: Choi Siwon of Super Junior, Bae Seulgi, Jung Yunho of DBSK

CHOI SIWON duduk seorang diri sambil menatap ponsel slide up di genggamannya. Coffeeshop itu penuh dengan orang-orang yang baru pulang kerja, dan di luar gerimis turun jarang-jarang. Dia letih, ragu dan tak berdaya. Terlihat dari tingkahnya yang membuka dan menutup slide ponselnya, berulang-ulang.

Akhirnya dia mengaku kalah. Dia menyerah dan membuka slide ponselnya. Mengakses phonebook dan menekan tombol bersimbol gagang telepon warna hijau ketika menemukan nama Seulgi.

Suara operator wanita menyahut kalau untuk saat ini nomor yang dihubunginya sedang tidak aktif dan dia dipersilakan untuk meninggalkan pesan setelah nada ‘tut’.

Siwon berdecak kesal, memutuskan panggilan itu. Tanpa alasan tertentu ia menoleh ke seberang jalan. Tiba-tiba ia terbelalak kaget dan menahan napas. Reflek, Siwon mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke jendela, urat nadi di lehernya tampak membengkak.

Di seberang jalan, dia melihat Seulgi keluar dari sebuah toko cokelat bersama dengan seorang pria. Pria itu membuka payung untuk melindungi mereka dari gerimis. Lalu keduanya menyeberang jalan. Keduanya bercanda, tangan pria itu menggenggam tangan Seulgi erat-erat ketika mereka menyeberang jalan.

Siwon tersentak dan darahnya mulai mendidih. Tiba-tiba ia merasa ditarik ke masa-masa hampir sebulan yang lalu, ketika ia dan Seulgi menikmati sore yang indah di café favorit mereka. Seulgi tertawa lepas ketika mendengar lelucon konyol yang baru diceritakan Siwon. Sampai mata gadis itu berair. Seulgi menyeka sudut matanya, wajahnya memerah karena terlalu banyak tertawa.

Justru Siwon suka Seulgi yang seperti itu, terlihat natural dan innocent. Siwon mengeluarkan tangannya ke depan, meraih tangan Seulgi. Sorot matanya penuh cinta dan kasih sayang. “Aku tidak tahu apa aku bisa melewatkan sehari pun tanpa melihat senyummu, Seulgi…” katanya lembut, mantap.

Seulgi tertawa. “Gombal!” sahutnya, namun Siwon bisa melihat wajah gadis itu memerah lagi. Dan kali ini dia yakin karena satu hal, malu.

Seulgi menarik tangannya mundur. “Buktinya kemarin seharian kita tidak bertemu, tapi kau tidak apa-apa sekarang? …Dasar pembohong!” celanya sambil tersenyum menggemaskan.

Siwon menyerah. Okey, seharusnya dia tahu kalau Seulgi tidak akan mempan dengan rayuan gombal seperti itu. Itulah salah satu alasan kenapa Siwon tergila-gila padanya. “Okey, mungkin aku sedikit berlebihan… kalau sehari aku masih bisa bertahan, tapi kalau seminggu…” Siwon menggeleng.

“Benarkah…?” Seulgi nyengir lebar. “Berapa lama kau hidup sebelum mengenalku? Sembilan belas tahun, kan? …Dan berapa lama kau mengenalku? Baru 2 tahun. …Kalau selama 19 tahun kau bisa hidup tanpa melihatku, kenapa seminggu saja tidak bisa?” Seulgi melemparkan pandangan nakal ke arah Siwon. “Pem-bo-hong!”

“Yaaa, aku serius!” tegas Siwon.

Seulgi menyandarkan kepalanya pada tangan kirinya yang bersandar pada meja. “…Begitukah?” Entah mengapa Siwon menangkap kesan Seulgi sedang menarik ulur perasaannya sekarang, seperti memainkan layang-layang. Siwon belum bisa menebak ke arah mana permainan gadis itu, tapi dia memutuskan untuk tidak terbawa arus.

“Tidak! Aku bercanda.” Siwon bersandar pada kursi, nyengir. “Jangan-jangan kau percaya kalau aku serius? …Seulgi-ah, kau seperti tidak mengenalku saja.”

“Apa??” Seulgi membelalak. “…Keterlaluan! Aiissh…” Seulgi menghempaskan punggungnya ke kursi, melipat kedua tangan di depan dada. Mendadak dia jadi BeTe, dan memalingkan wajah ke arah lain.

Siwon mendengus geli. “Kalau kau sendiri? …Setelah dua tahun mengenalku, bersamaku, …apa kau sendiri yakin bisa melewatkan satu hari tanpa melihatku, tanpa mendengar suaraku…, atau menerima sms dariku?”

“Tentu saja bisa! Kenapa tidak?” Seulgi langsung menjawab tanpa berpikir panjang.

Siwon jadi gemas melihatnya. Nih anak ya… “Yaaa, pikirkan dulu baik-baik sebelum menjawab! Jangan asal buka mulut saja!” peringatnya.

“Kalau kau bisa melakukannya, kenapa aku tidak?”

Aaaa, Siwon tahu sekarang! Ternyata gadis itu marah gara-gara Siwon bilang hanya bercanda kalau menyangka bisa hidup tanpa melihat gadis itu selama seminggu. Dasar Bae Seulgi! Kebaca juga hatinya sekarang…

“Bahkan kalau sebulan?” goda Siwon lagi.

“Sembilan belas tahun aku hidup tanpa mengenalmu, tanpa pernah melihat wajahmu…., kenapa sekarang sebulan saja aku tidak bisa?” jawab Seulgi, masih emosi.

Siwon berdecak kesal. “Sungguh?!” nada bicaranya mulai terdengar mendesak daripada bertanya.

“Sungguh!” yakin Seulgi pasti.

“Berani taruhan?!”

“Tentu saja! …Kenapa tidak?”

Itulah mulanya taruhan di antara mereka. Dua orang yang sama-sama keras kepala dan tidak mau mengalah. Keduanya sepakat untuk taruhan siapa duluan yang tidak tahan selama sebulan tanapa mengontak satu sama lain. Dan Siwon yakin kalau Seulgi hanya mnggertaknya waktu itu, dan pasti gadis itu, paling tidak seminggu lagi, akan meneleponnya dahulu. Mengatakan kalau dia mengaku kalah.

Namun ternyata dugaan Siwon meleset. Seulgi menanggapi serius taruhan mereka. Giliran Siwon yang kelabakan, uring-uringan sendiri. Sisi dirinya mendesak untuk mengalah terlebih dulu karena dia benar-benar merindukan Bae Seulgi. Namun kalau dia mulai berpikiran seperti itu, sisi lain dirinya akan berteriak, “Jangan! Jangan samapi dirimu terlihat lemah dan kalah di depan wanita. Jangan sampai dia tahu kalau kau benar-benar tergila-gila padanya. Ingat, harga dirimu sebagai seorang laki-laki!”

Dan sekarang, dua puluh tujuh hari kemudian, tepat di hari dia menyerah pada perasaannya, Choi Siwon merasa dia adalah laki-laki paling bodoh sedunia! Ternyata selama ini hanya dirinya yang uring-uringan sendiri seperti orang bodoh! Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, apa-apa pasti keliru. Tapi Seulgi ternyata….

Siwon tidak sanggup menahan amarahnya. Seketika dia berdiri dan dalam sekejap dai keluar lewat pindu depan.

Di luar sudah gelap dan hujan turun. Agak dingin, karena minggu-minggu ini minggu peralihan musim gugur ke musim dingin. Jalanan dipenuhi pejalan kaki yang hendak pulang ke rumah masing-masing. Siwon berkelit-kelit, menghindari orang-orang yang berpapasan jalan dengannya. Pandangannya tidak pernah lepas dari Seulgi dan pria itu. Sengaja dia menjaga jarak dengan keduanya. Dia ingin tahu, apa yang dilakukan dua orang itu ketika berkhianat di belakangnya.

Setengah blok di depannya, pasangan itu tiba-tiba berhenti. Pria itu menarik Seulgi melihat-lihat boneka yang dijual pedagang kaki lima di pinggir jalan itu. Siwon cepat-cepat berlindung di balik papan nama sebuag toserba, mengawasi keduanya dengan tatapan tajam.

Pria itu… Jung Yunho, Siwon bisa melihatnya dengan amat jelas dari tempatnya berdiri. Pria yang menjadi sahabatnya sejak SMA. Orang yang berbagi segala suka dan duka dengannya. Teman berantemnya. Dan ternyata malah menusuknya dari belakang!

Yunho mengambil boneka beruang besar warna cokelat, menawarkannya pada Seulgi. Seulgi tersenyum sopan, menggeleng. Namun Yunho belum menyerah, dia mengambil teddy bear yang lain, warna cokelat yang sama tetapi lebih kecil. Awalnya Seulgi terlihat menolak, namun Yunho terus mendesak. Akhirnya Seulgi mengangguk dan Yunho membayar boneka itu. Lalu menyerahkan pada Seulgi.

Seulgi tersenyum penuh terima kasih, mendekap boneka itu erat-erat. Wajahnya betul-betul cerah.

Yunho balas tersenyum, membelai wajah gadis itu lembut.

Mereka berdua tidak tahu, kalau setengah blok di belakang mereka, bersembunyi di balik papan nama sebuah toserba, Choi Siwon mengatupkan rahangnya kuat-kuat. Tangannya pucat karena terlalu lama mengepal.

***

Jalanan menjadi basah dan licin akibat gerimis yang masih turun. Seulgi agak tersentak ketika tangan Yunho merengkuh bahunya untuk merapat lebih dekat dengan tubuh pria itu. Diam-diam Seulgi melirik pria di sampingnya itu, Yunho terlihat cool seperti biasa. Seolah tidak sedang melakukan apa-apa, pandangannya tetap lurus ke depan. Entah mengapa Seulgi tidak keberatan Yunho seperti itu. Dia mendekap lebih erat boneka pemberian Yunho.

Ketika sampai di seberang, Yunho melepaskan rengkuhannya. “Dingin?” dia berbalik menatap Seulgi.

“Ohng…” Seulgi mengangguk samar.

Yunho menyerahkan payung ke tangan Seulgi, yang walaupun bingung tetap menerimanya. Yunho pun menggosok-gosok kedua tangannya sampai menghangat, lalu menempelkannya ke pipi Seulgi.

Seulgi tersentak.

Namun Yunho membuainya dengan senyuman manis. “Begini sedikit lebih hangat, kan?” tanyanya.

Wajah Seulgi memanas malu.

Choi Siwon, yang berdiri si seberang, di belakang pria berpayung yang menunggu lampu lalu lintas berubah warna, bisa melihat kejadian itu dengan amat gamblang.

Ingatannya kembali pada percakapannya dengan Yunho beberapa hari yang lalu ketika mereka berdua sedang iseng bermain basket.

“Bagaimana? …Apa aku harus meneleponnya duluan?” Siwon berkelit dari penjagaan Yunho, melakukan shoting. Yup, masuk!

Yunho berdecak kesal, menyesali kelengahannya sekaligus mengagumi permainan basket sahabatnya. “Dan sama saja bilang pada Seulgi kalau kau benar-benar tergila-gila dengannya?” Yunho mencebik, menggeleng. “Kalau aku jadi dirimu, aku tidak akan melakukannya.”

Sekarang gilirannya memegang bola. Yunho mendribble sambil berusaha mencari celah dari kawalan ketat Siwon.

“Lalu bagaimana? Aku merasa seperti orang bodoh kali ini!” katanya selagi dia mengamati secermat mungkin tiap pergerakan Yunho membawa bola, mencari kesempatan untuk merebutnya. Dan ketika dia melakukannya, Yunho berhasil berkelit dan memasukkan bola ke ring.

“Kali ini biarkan Seulgi merasakan apa yang kau rasakan.” Yunho memungut bola basket, melemparkannya pada Siwon. “Sekali-sekali kau harus jual mahal. Jangan biarkan dirimu terus-terusan mengalah. Ingat, Seulgi itu wanita!” ingatnya.

Siwon mendribble bola, namun belum beranjak seincipun dari tempatnya berpijak. Dia menatap Yunho tajam-tajam.

“Dan semua wanita… pasti akan semena-mena kalau tahu mereka berada di atas angin.” Lanjut Yunho, meyakinkan.

***

Brengsek!

Meletuplah emosi Siwon saat mengingat hal itu sekarang. Dalam sekejap dia tidak sanggup mengendalikan emosinya. Dia mendorong pria berpayung yang menghalangi langkahnya, berlari. Tiba-tiba saja dia menyeberang tanpa mempedulikan lalu lintas.

Bunyi klakson yang meraung menyebabkan Seulgi dan Yunho sama-sama menoleh ke belakang. Sekilas keduanya berdiri mematung. Namun dalam sekejap, Yunho tergeletak di trotoar dengan sudut bibir yang berdarah.

Siwon terengah. Tangannya yang masih mengepal terasa berdenyut-denyut. Dia menatap tajam Jung Yunho yang balas menatapnya ngeri bercampur kaget.

Siwon tidak peduli dengan orang-orang yang memperhatikan mereka. Dia berpaling kepada Seulgi yang berdiri terpaku di tempat. Membalas tatapan gadis itu dengan tatapan dingin. Kemudian tanpa mengucapkan satu kata pun, Siwon berbalik pergi dari tempat itu.

*Over!*



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain