Shiaqie’s Weblog











{September 10, 2008}   {FF} When Winter Comes

author’s note:

Di forum sunes gw bilang ni FF pertama yg gw bikin. Sebenernya iya juga sih… Ni FF pertama yg ku bikin langsung dengan segala sesuatunya berbau Korea–nggak pake nama atau setting Indonesia. ^^

nikmatin aja… XD

————————–

WHEN WINTER COMES

author: Kiky ShiaQie

characters: Kim Kibum of Super Junior, Han Eunsoo -OC- and Jo Kyuhyun os Super Junior

Duk!

Kerikil hitam membentur tembok beton penyangga jembatan. Aku tidak tahu sudah berapa kali aku melakukan hal itu, tapi aku melakukannya lagi.

Duk!

Kerikil yang kutendang sekali lagi membentur beton penyangga jembatan.

Aku melihat ke sekeliling. Langit berwarna kelabu, sungai mengalir lamban, dan salju menyelimuti tanah yang kupijak sekarang. Begitu suram dan khidmad, sama seperti diriku.

Aku menghela napas, membuat kepulan asap kecil seperti kabut di udara. Kukencangkan syal yang yang melingkar di leherku. Menyelipkan kedua tangan yang lupa aku pakaikan sarung tangan ke dalam saku coat-ku. Udara semakin dingin dengan seiring dengan hari yang semakin larut.

Dia tidak datang, aku menyadari itu. Tapi entah mengapa aku menunggunya. Dia sudah berjanji akan datang, jadi dia pasti datang, yakinku pada diri sendiri. Jadi aku terus menunggunya, di sini. Di tempat dulu kami sering bertemu.

Sembari menunggu dia datang, aku memejamkan mata. Mengurai benang kusut ingatanku sendiri, memintalnya menjadi rajutan-rajutan kenangan. Semakin lama semakin jelas, dan semakin nyata.

Aku mulai merasakan udara di sekitarku menghangat. Sekelilingku mendadak tak sesunyi tadi, hiruk pikuk suara bocah terdengar samar-samar di telingaku.

Aku membuka pejaman mataku. Sinar matahari yang terang benderang langsung masuk menyergap. Aku menghalaunya dengan telapak tangan karena silau.

“Sudah bangun ya?”

Aku menoleh ke samping. Seorang pemuda yang duduk di sampingku tersenyum hangat. Sehangat udara musim semi saat ini. Dadaku terasa sesak. Dia… dia pemuda yang aku tunggu. Pemuda yang sangat aku rindukan.

Aku bangun dari rebahanku. “Kak… Kibum…?”

Kim Kibum sekali lagi tersenyum. “Ya? …Ada apa? Kelamaan tidur membuatmu amnesia, ya?”

Aku hanya terpaku menatapnya.

“Hei?” Kibum mengibas-kibaskan tangan di depan wajahku. “Han Eunsoo…? Kau sudah bangun kan? Atau jangan-jangan… kau ini sedang mengigau?”

Aku tersenyum samar. Benar, ini memang Kibum. Kak Kibum-ku. Aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. Aku tahu dia merasa sedikit rikuh, tapi kali ini aku ingin menyamankan diriku. Aku memejamkan mata, tenggelam dalam kehangatan pundak itu.

“H-hei…, Eunsoo… Ka-kau ini kenapa? Kalau ada orang yang lihat kan malu…” Kibum hendak menarik lengannya.

“Sudah, begini saja. Satu menit… tidak, lima menit. Sepuluh menit…. Sepuluh menit saja, ya?”

Kibum terdiam. Kami berdua sama-sama diam. Suasana menjadi lebih hening, hanya terdengar teriakan samar anak-anak yang bermain-main di seberang sungai. Lama, Kak Kibum membiarkanku menyandarkan kepala ke bahunya.

Sementara matahari semakin jauh condong ke barat. Sinarnya yang berwarna keemasan itu jatuh menerangi dua punggung yang duduk di tepi sungai.

***

Udara dingin memaksaku untuk membuka mata dan merapatkan mantel wol selutut warna merah marun yang kukenakan. Sekelilingku kembali sunyi. Aku menyentuh salju putih tempatku duduk. Tempat aku dan Kak Kibum sering duduk, dulu… ketika kami masih enggan pulang ke rumah sepulang sekolah. Waktu berputar terlalu cepat sejak hari itu.

Aku ingat selalu bermain di tepi sungai itu. Aku dan Kak Kibum… Aku juga ingat…, aku pasti jatuh tertidur saat aku merebahkan diri di rumput itu, dan aku akan selalu menemukannya tersenyum hangat kepadaku saat aku membuka mata. Dan Kak Kibum akan membiarkanku berlama-lama bersandar di bahunya… Semua itu masih aku ingat dengan jelas. Senyum Kak Kibum…, bahkan kehangatan bahu Kakak juga masih aku ingat. …Masih teringat jelas, Kak. Juga janji Kakak… semuanya masih aku ingat… dengan amat jelas…

***

Aku berjalan menyusuri rumput hijau di tepi sungai itu. Iseng menghitung tiap langkah yang kutapaki. “Seratus tiga puluh lima… seratus tiga puluh enam…”

“Kau sedang apa?” tanya Kibum yang menuntun sepedanya, heran.

“Aku menghitung berapa langkah kita berjalan dari sekolah pulang ke rumah.” Jawabku. “…seratus tiga puluh tujuh… seratus tiga puluh delapan…”

Langkah Kibum tiba-tiba berhenti.

“Seratus tiga puluh sembilan… seratus empat puluh…” aku menghentikan langkahku, menatap ke belakang. “Ada apa?”

Kibum menggeleng. “Tidak. Eunsoo… Kita pulang naik sepeda saja, ya?”

Aku memandangnya keheranan. Tidak biasanya…

***

Sepanjang jalan Kibum hanya diam, berkonsentrasi pada kayuhan sepedanya yang semakin lama semakin cepat. Sepeda kami berguncang berkali-kali dan nyaris jatuh berulang-ulang karena jalan yang kami lalui bergelombang dan agak terjal.

“Kak…” aku mempererat peganganku pada pinggang Kibum agar tidak jatuh ketika sepeda kami berguncang untuk kesekian kalinya.

Tapi Kibum sepertinya enggan untuk mengurangi kecepatan kayuhannya, bahkan dia mengayuh semakin cepat. Saking cepatnya, saat melewati turunan sepeda meluncur tanpa terkendali. Aku menutup mataku rapat-rapat, berdoa agar kami baik-baik saja.

Brak!!!

Kami jatuh.

Aku jatuh ke tanah dengan kaki yang tertimpa sepeda, sementara Kibum jatuh tengkurap di tanah.

“Eunsoo?!” Kibum cepat-cepat bangkit dan berlari menghampiriku. “Kau baik-baik saja, kan…?” Dia menarik sepeda yang menimpa kakiku. Dia mencoba menyentuh memar besar di kakiku, tapi aku menepisnya. Saat dia mencoba membantuku berdiri, aku mendorongnya.

“Pergi!”

Aku mencoba berdiri sendiri meskipun susah payah. Aku memaksa kakiku untuk melangkah, walaupun nyeri yang teramat sangat menyerang.

“Eunsoo!” Kibum mengejarku, memaksa mengalungkan tanganku ke bahunya. Aku berontak, memukulinya berulang-ulang.

“Lepas! Aku membencimu… Dasar bodoh! Gila! Idiot! Lepas!” aku terus memukulinya, mendorongnya, memakinya. Airmataku mengalir deras. Aku tidak tahu kenapa aku menangis. Seharusnya aku marah—aku ingin sekali bisa marah kepadanya saat ini—tapi yang bisa kulakukan hanya menangis. Aku kecewa dengan diriku sendiri, jadi aku menangis lebih keras.

“Maaf, Eunsoo…” Kibum berusaha menyentuhku, aku mendorongnya.

“Jangan sentuh aku! …Apa masalahmu, hah?! Kenapa kau jadi begini?! Seharusnya kalau ada masalah, kau memberitahuku! Kenapa kau selalu menyimpan masalahmu sendiri?! ..Memangnya kau hebat, hah?! Kau bisa menyelesaikannya sendiri?!” aku terus memukulinya.

Dia hanya diam, menunduk.

“Kenapa diam? …Kau sudah melibatkanku, sekarang kau mau lepas tangan, hah…? Kau anggap aku ini apa selama ini? …Orang luar?” Aku mencoba untuk menahan diri, tapi sakit di hatiku lebih perih daripada luka di lutut dan kedua tanganku. Sekarang aku merajuk, menggoyang-goyangkan lengannya. “Katakan ada apa….. Kenapa Kakak diam…? …Aku mohon… bagilah lukamu denganku… jangan menyimpannya sendiri… Kak~”

Tiba-tiba Kibum mencengkeram tanganku, menarikku ke dalam dekapannya dan memelukku erat-erat. Aku tercengang.

Kak Kibum… menangis…?

Sebelumnya aku meragukannya, tapi aku mendengarnya terisak walaupun sangat pelan. Aku tahu dia menangis, karena aku merasakan pundakku terasa basah.

Baru pertama kali ini aku melihat laki-laki dewasa menangis, apalagi seorang Kim Kibum. Dan aku tidak tahu harus bagaimana. Jadi aku membiarkannya melepas semua beban yang membelenggunya… di pundakku…

***

Saat itu yang aku tahu tiba-tiba sudah malam. Sewaktu membuka mata, aku sudah ada digendongan Kibum. Aku sangat berharap tadi cuma mimpi buruk, tapi nyeri di lutut dan kedua sikuku membuatku sadar kalau aku tidak bermimpi. Kembali aku menyandarkan kepalaku di punggungnya.

Kibum hanya menoleh sekilas, untuk memastikan aku sudah bangun. Kemudian dia kembali berjalan. Hanya suara langkah kakinya dan suara jangkrik yang aku dengar untuk beberapa saat.

“Sampai kapan…?” aku memberanikan diriku untuk bertanya.

Hening yang cukup lama sebelum aku mendengar jawabannya. “Mungkin setahun… dua tahun… atau lima, mungkin. Aku tidak tahu…”

Hening.

“Jadi Kakak tidak akan kembali…?” gumamku.

Langkah Kak Kibum berhenti tepat di bawah lampu jalan.

“Hei, dengar…,” katanya serius. “Setiap setahun sekali aku pasti pulang. Kita tentukan harinya…. Kapan? ….Ooh, bagaimana kalau setiap ulang tahunmu? Musim salju kan? …Baik, begitu saja. Setiap hari ulang tahunmu di musim salju aku akan pulang. Aku akan ada di bawah jembatan di tepi sungai biasanya. Kau harus menungguku, ya…?”

“…janji?”

“Tentu saja!” Kibum kembali melangkah. “Kau harus menungguku. Aku pasti membawa hadiah ulang tahun untukmu, jangan sampai kau tidak datang. Kalau tidak datang, awas! …Oh iya, kau ingin hadiah apa? …Bagaimana kalau boneka beruang kutub yang besaaar sekali. Tapi…. tidak ah, terlalu biasa. Ehm…., bagaimana kalau karangan bunga mawar putih yang besar juga. Kau paling suka warna putih kan? …Eummm…tapi jauh-jauh dari Jeju masa cuma bawa bunga? Tidak istimewa. …Ohh! Bagaimana kalau dua-duanya saja, boneka beruang kutub juga mawar putih—”

Aku membiarkannya terus bicara sepanjang jalan tanpa menyahut. Aku tahu… hanya dengan membiarkannya terus bicara, itu membantunya untuk sejenak melupakan rasa sedih. Seperti dia juga tahu, dengan membiarkanku terus diam seperti ini… bisa lebih menata perasaanku.

Aku ingin cepat-cepat pulang. Ini pertama kalinya saat aku bersama Kak Kibum, aku ingin segera sampai di rumah. Kali ini aku tidak ingin berlama-lama lagi bersama Kak Kibum. Karena semakin lama aku mendengar suaranya… semakin lama pula aku menahan perih ini.

***

Seminggu kemudian Kibum pindah ke Jeju bersama Ayahnya. Aku melepaskannya pergi. Tidak ada airmata, yang ada hanya senyuman. Kibum berjanji padaku akan kembali setiap hari ulangtahunku di musim dingin. Aku berkata kepadanya, akan menunggu…

Musim semi berlalu tanpa ada kabar. Tidak ada surat, maupun telepon dari Kibum. Musim panas berakhir dengan kegundahanku. Aku tidak ingat berapa banyak surat yang kutulis atau berapa kali aku menelepon. Tapi tak satu pucuk pun suratku yang dibalas, tak satu teleponku pun yang diangkat. Musim gugur kujalani tanpa sekalipun berhenti memikirkan Kak Kibum. Sebanyak daun-daun berguguran ke tanah, sebanyak itu juga aku memikirkan Kak Kibum. Aku mulai berpikir, jangan-jangan suratku tidak pernah sampai ke tempat. Atau aku salah menulis nomor telepon rumah Kak Kibum yang baru. Tapi kenapa Kakak tidak pernah menghubungiku untuk memberi tahu??

Di hari ulang tahunku di musim salju, aku menunggu Kakak di bawah jembatan di tepi sungai biasanya. Aku menunggu sampai malam, tapi Kakak tidak datang. Esok dan esoknya lagi aku juga datang, berharap Kak Kibum terlambat karena lupa hari ulang tahunku. Tapi Kakak tidak datang…

Musim salju yang dingin pergi, berganti musim semi yang hangat. Lalu dalam sekejab… musim salju yang dingin pun datang lagi. Selalu begitu. Tiga musim dingin telah berlalu hingga sekarang. Aku tidak lagi menulis atau berusaha menelepon Kak Kibum, tapi harapanku belum pupus. Aku masih datang ke bawah jembatan itu tiap kali ulang tahunku datang. Tapi tidak ada boneka beruang kutub, tidak ada serangkaian mawar putih besar, tidak ada Kak Kibum…

Hari semakin larut, waktu ulang tahunku hampir habis. Dingin semakin menusuk kulit wajahku, tapi aku masih bertahan di tempat itu.

“Eunsoo…”

Aku menoleh, senyumku terkembang. “Kak Kibum!” cepat-cepat aku berdiri. Tapi senyumku perlahan-lahan memudar. Bukan…, pria yang berdiri di depanku ini ternyata bukan Kak Kibum yang aku nanti, tapi Kyuhyun. Pandangan matanya itu aku kenali dengan amat sangat sebagai rasa iba.

“Sudah malam, Eunsoo.” Katanya.

“Aku tahu.”

Lama, Kyuhyun terdiam. “Dia tidak akan datang.” Kata Kyuhyun lagi.

“Akan kutunggu.”

“Selamanya dia tidak akan datang! …Han Eunsoo, kau tau itu dengan pasti, kan?!”

Aku menatap Kyuhyun tak percaya, ini pertama kalinya pria itu berteriak padaku.

Kyuhyun menghela napas. Suaranya kembali memelan. “Dia sudah meninggal, Eunsoo… tiga tahun yang lalu. Kau sendiri tahu itu. Kapal yang membawanya ke Jeju tenggelam… Dia… tidak akan datang.”

Aku benci kalau Kyuhyun mengungkit hal ini. “Tidak ada yang menemukan tubuhnya kan? …Bagiku… Kak Kibum masih hidup. Aku akan menunggunya samp—”

“HAN EUN SOO, SADARLAH! Apa kau tahu kalau kau terus seperti ini… juga membuatku terluka?! ……Aku mohon Eunsoo… akhiri ini sekarang. Terimalah kenyataan… demi Kibum juga… Biarkanlah dia tenang.”

“Pergi…”

“Eunsoo…”

“Pergi… Apapun yang kau katakan, aku tidak peduli! Aku akan tetap di sini, jadi pergilah… Pergi!”

Kyuhyun tak berdaya. Aku melihat pria itu berjalan ke arah mobilnya tanpa berkata apa-apa lagi. Saat aku tidak mendengar suara deru mobil pria itu seketika aku jatuh berlutut. Aku menenggelamkan kepala di antara kedua lututku. Aku merasa lelah dan kalah… Aku ingin percaya dengan kata-kata Kyuhyun, juga kata-kata orang banyak. Kak Kibum sudah mening-… Tidak, kalau aku mencoba mengatakannya kepada diriku sendiri, sebagian dari diriku ini berontak. Orang boleh menyebutku bodoh, aku tidak peduli. Mereka menyebutku gila… ya, mungkin aku sudah gila…

***

Setiap hari selama musim dingin, gadis itu selalu datang ke bawah jembatan. Dia terus menunggu, walaupun dia tahu penantiannya itu sia-sia belaka. Tapi dia terus menunggu…

Pemuda itu juga… Dia tahu kalau gadis itu takkan memandangnya. Dia tahu gadis itu tidak akan pernah bisa melupakan cinta pertamanya. Tapi dia tetap menemani gadis itu. Dia tetap… berdiri di belakang gadis itu… melihat punggung itu… walaupun perih menderanya. Tapi dia selalu begitu…



Tinggalkan Balasan

dan lain-lain